Rindu Ketinggian ( Lagi )

Masih di edisi rindu ketinggian. Hari ini memasuki bulan ke delapan belum menjejakkan kaki di gunung. Kalau kemarin karena sibuk, kini Pandemi.

Jadi ya, ngikut aja lah. Gunung juga ngga akan kemana-mana.

Nah, saat menulis ini, saya baru selesai nonton video “atap negeri” nya Fiersa Besari saat nanjak ke gunung Talamau, atap tertinggi Sumatera barat.

Total ada 3 episode selama pendakian.

Di video terakhir, saya terhenyak di momen saat Fiersa dan kawan-kawannya tiba di telaga di ketinggian 2.800an Mdpl bernama Puti Sangka Bulan.

Momen saat mereka begitu antusias melihat telaga yang masih sangat asri, dan tersembunyi karena letaknya di tengah belantara Talamau. Saya merinding.

Karena saya tau persis bagaimana rasanya.

Karena saya juga pernah beberapa kali merasakannya saat mendaki. Ketika tiba di sebuah tempat yang sangat indah dan merasa takjub yang amat sangat.

Saya pernah merasakannya saat tiba di Ranu Kumbolo. Danau dengan pemandangan yang sangat cantik di gunung Semeru.

Saya merasakannya saat tiba di camp site pos 3 Dampo Awang gunung Merbabu via Suwanting. Camp site dikelilingi padang sabana hijau yang indah.

Saya dan teman-teman di Merbabu
Bercengkerama dengan alam di Merbabu

Saya merasakannya saat tiba di Tegal Alun gunung Papandayan sebelum terbakar. Dikelilingi taman Edelweiss yang begitu luas dan tenang. Sunyi, saat itu hujan.

Saya merasakannya saat tiba di camp Gajahan gunung Sumbing via Bowongso. Camp site yang juga dikeliling sabana dengan pemandangan Sindoro.

Kalau Anda belum pernah mendaki, mungkin kesulitan membayangkan “rasa” yang saya maksud. Tapi kalau Anda sudah pernah mendaki, saya yakin Anda ngerti.

Sampai merinding karena takjub. Bahkan di beberapa tempat saya meneteskan air mata secara tidak sadar. Karena saya merasa begitu kecil.

Percaya atau tidak, gunung adalah salah satu tempat terbaik untuk berkaca. Tempat untuk introspeksi diri. Untuk mengerti artinya bersyukur.

Untuk tau bahwa Allah Maha Besar.

Ketenangan saat berada di gunung memberikan saya ruang lebih banyak untuk berpikir tentang banyak hal. Membantu saya untuk kembali “hadir”.

Makanya, banyak pendaki yang bilang, naik gunung itu panggilan hati. Saya ngga ngerti maksudnya, tapi saya rasa pernyataan itu benar adanya deh.

Karena gunung selalu punya tempat di pikiran saya. Padahal naik gunungnya juga jarang. Tapi entah, gunung selalu bisa membuat saya balik lagi.

Coba deh, tonton videonya. Lihat keindahannya. Bayangkan Anda disana :

Saya suka nonton video-video pendakiannya Fiersa.

Saya suka caranya menikmati alam. Saya suka dengan ketenangan beliau saat mendaki. Kurang lebih, saya punya cara yang sama menikmati alam.

Saya juga pernah mengaitkan antara mendaki dan Minimalisme.

Dan saat menonton videonya yang ini, rasa kangen naik gunung jadi muncul lagi. Makanya akhirnya membuat tulisan ngga jelas ini. Hehehe.

Anda sudah pernah naik gunung sebelumnya ? Kalau belum, saya sangat-sangat merekomendasikan Anda untuk mencobanya deh.

Minimal sekali seumur hidup. Dan rasakan pengalamannya.

Anda Mau Berkomentar ?