Punya SIM Lagi Setelah 6 Tahun

Akhirnya, saya punya SIM motor lagi, setelah 6 tahun lamanya.

Anda ngga salah baca. SIM motor saya mati sejak 2014 karena “bencinya” saya dengan sistem birokrasi di negeri TERCINTA ini, yang membuat idealisme saya menolak perpanjang SIM. Ngga guna.

Jadi ceritanya, di hari yang sama setelah memperpanjang STNK 7 Oktober lalu, siangnya saya berlanjut ke kantor Satpas Metland Tambun untuk bikin SIM.

Karena SIM saya udah lama almarhum, jadi ya otomatis bikin SIM baru.

Pertama datang, parkir motor, suasana sunyi banget. Memang tempat ini masih baru, pecahan dari lokasi utama di Polres. Alasannya sih untuk menghindari tumpukan antrian dan cluster Corona baru.

Di gerbang depan saya ditanya keperluannya, dan langsung diarahkan ke sebuah ruangan. Saya pikir memang ini prosedurnya ya. Eh ternyata . . .

Di ruangan tersebut saya diminta foto copy KTP, di cek sebentar, lalu ditanya, “mas mau langsung atau proses biasa ?“. Oohhhh baru paham saya. Saya nanya dong, “kalau langsung berapa mas ?“.

650.000 mas, terima beres“. Gimana ? Edan kan ? Hahahaha.

Karena saat bikin SIM pertama tahun 2009 lalu saya ngurus sendiri, jadi sudah tau prosesnya, akhirnya saya memilih lewat jalur resmi aja. Cuma 100.000 SIM + 25.000 asuransi + 30.000 cek kesehatan.

Cek kesehatan gitu-gitu doang, formalitas. Asuransi dapet kartunya.

Kemudian saya isi form, dan duduk menunggu dipanggil.

Saat dipanggil bersamaan dengan beberapa orang lainnya, kita naik ke lantai atas. Tahap berikutnya adalah input data. Kemudian pindah ke ruang sebelah untuk foto diri, rekam sidik jari dan tandatangan.

Karena saya bikin baru, maka berlanjut ke tes teori. Kalau cuma perpanjang SIM ( syaratnya SIM lama belum mati ) bisa langsung ke ruang pencetakan SIM.

Disinilah musibah 2009 terulang kembali, ahahahaha.

Jadi ada 30 soal. Setiap soal waktunya 15 detik. Minimal harus benar 21 soal. Tapi masalahnya . . .

Skema pembacaan soalnya begini :

Pertama ada suara pernyataan dengan kecepatan menyampaikan yang perlahan. Pernyataan selesai, kita diminta lihat gambar animasi, untuk memvalidasi pernyataan tadi benar atau tidak.

Kemudian, saya tinggal klik aja jawabannya : tombol benar atau salah.

Masalahnya, semua proses diatas berjalan selama 12-13 detik. Padahal waktu menjawab setiap soal 15 detik. ARTINYA SAYA CUMA PUNYA WAKTU MENJAWAB 2-3 DETIK.

Logis ngga sih di otak ? Alhamdulillah, untung saya masih waras.

Saya gagal di tes teori seperti pada 2009 lalu, jadi harus balik lagi 7 hari ke depan, tanggal 14 Oktober 2020. Kalo dihitung sama ongkos transport PP Bandung-Bekasi, jadinya ongkos bikin SIM sama kayak nembak hahaha.

Tapi poin saya adalah, betapa prosesnya menurut saya ngga relevan, untuk ukuran orang yang sudah bertahun-tahun mengendarai motor, apakah tes tersebut bisa merepresentasikan kemampuan orang tersebut ?

Sabar, ke-tidak-relevan-an masih belum selesai.

Tanggal 14 Oktober 2020 kemarin akhirnya saya balik lagi ke Bekasi, langsung tes teori yang kedua. Alhamdulillah, lolos tanpa kesulitan. Berlanjut ke tes praktek mengendarai motor.

Jalan trek lurus, jalan zig-zag melewati patok pembatas, dan jalan letter U melewati patok pembatas. Patok ngga boleh jatuh di semua prosesnya. Alhamdulillah, saya juga lolos dengan lancar.

Tapi poinnya, dengan tes yang menurut saya cukup sulit, ditambah lagi pakai motor bawaan polisinya yang stangnya kaku jadi ga leluasa, ini jadi ga relevan. Sekali tes doang, kalau gagal, harus mengulang 14 hari lagi.

Untuk orang yang bertahun-tahun udah touring kemana-mana, digagalkan cuma oleh sekali tes dengan kondisi saya jelaskan diatas, relevan ngga ? Alhamdulillah, saya masih waras.

Malah di otak saya sampai muncul pikiran “mulia”, “oh jangan-jangan emang dibuat susah kali, biar pada menyerah, akhirnya balik lagi ke proses terima-beres yang di awal. Dapet duit deh 650.000“.

Dapet cuan bos . . . Panen . . Panen . . .

Itulah yang membuat saya sebegitu bencinya, dan memutuskan ngga ngurusin SIM hampir 6 tahun lamanya.

STNK saya juga sebelumnya mati hampir 6 tahun. Baru kemaren aja diurus karena ada pemutihan denda.

Menurut saya, birokrasinya terlalu berbelit, banyak yang ngga relevan, banyak yang harusnya bisa disederhanakan, banyak yang harusnya bisa diotomasi. Menyedihkan pokoknya negeri TERCINTA ini.

Akhirnya, sekarang saya ( terpaksa ) punya SIM dan STNK yang hidup.

Komentar Pembaca . . .

Anda Mau Berkomentar ?