Etika Penting Saat Bertanya

Pernah ngga sih dapat chat dari orang yang baru Anda kenal beberapa waktu lalu, kemudian dia menghubungi Anda, lalu bertanya, “mas, saya mau nanya. Saya lagi jualan hijab. Kira-kira gimana ya biar produk saya laris ?”.

Kebayang ngga jawaban apa yang harus Anda berikan ?

Apakah cukup dijawab “biar laris ya dijual mas, supaya ada yang beli”. Atau mau dijawab super detail tentang langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan, strategi apa yang sebaiknya diambil, dan banyak hal lainnya. Ingat lho, pertanyaan ini disampaikan melalui chat, dan Anda juga menjawabnya melalui chat.

Dijawab pakai jawaban yang pertama, kesannya kok kurang ajar. Dijawab pakai jawaban yang lengkap, kok useless banget rasanya ngetik super panjang. Karena pertanyaan diatas membutuhkan penjelasan jawaban detail. Ngga segampang itu jelasin di chat. Ngga semudah membalik tempe di penggorengan !

Jadi, maksud saya begini. Saya tau, ada beberapa orang yang masih newbie banget.

Ngga ada yang salah dengan itu. Saya juga pernah newbie. Dan sampai saat ini saya juga masih newbie di beberapa hal. Di lain hal saya sudah “naik tingkat” karena saya belajar dan mencari tau. Tapi tolonglah, jangan jadikan identitas newbie sebagai topeng pertanyaan-pertanyaan Anda yang kurang tepat.

Anda tau kan apa maksud saya ?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan dijawab melalui chat. Ada pertanyaan yang harus dijawab via telepon agar lebih jelas. Ada pertanyaan yang perlu dijawab melalui video call karena ingin menunjukkan sesuatu untuk mendukung jawaban itu. Dan ada pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan cara bertemu / bertatap muka, karena butuh penjelasan yang kompleks.

Jadi seharusnya Anda bisa menempatkan diri, pertanyaan saya pantasnya ditanyakan melalui apa ? Menurut saya, ini tentang nalar pikiran yang sederhana. Ngga ada hubungannya dengan newbie.

Ini murni soal attitude. Soal etika saat kita dalam bertanya kepada orang lain.

Pertanyaan “menurut mas lebih bagus hijab yang biru atau merah” masih bisa Anda tanyakan via chat. Tapi pertanyan “gimana caranya ya mas supaya produk saya bisa laku” jelas membutuhkan jawaban yang lebih detail. Alangkah baiknya ditanyakan saat sedang bertatap muka, atau minimal melalui telepon / video call.

Terbayang bedanya 2 pertanyaan diatas ? Terbayang jawaban yang harus disampaikan ?

Pernah dengar quote “adab sebelum ilmu” kan ? Ini poin tulisan saya kali ini. Alangkah baiknya jika bertanya dengan tata cara yang baik, dan dengan pertanyaan yang sesuai. Jangan mentang-mentang itu guru Anda, bisa nanya apapun seenaknya. Jangan buat lawan bicara Anda ngga nyaman.

Apalagi pertanyaan yang diawali dengan “P”. Asli ini bangsat banget sih.

Saya ngga tau orang-orang mikir apa saat bertanya ke orang dengan cara ini. Memperkenalkan diri ngga, salam ngga, tiba-tiba nulis “P” dan berharap mendapat respon yang baik. Saya sih langsung blok biasanya.

Bukan saya sok. Bukan saya merasa terkenal, atau hal lainnya. Sikap saya murni sebagai cerminan atas sikap Anda kepada saya. Anda bersikap baik ? Saya pasti merespon baik. Begitu juga sebaliknya.

Sesederhana itu. Karena semua ini tentang attitude dan etika. Itu saja.

Anda Mau Berkomentar ?